TITIK TEMU SENI DAN PSIKOLOGI

on Rabu, 10 Juni 2009

SEKAPUR SIRIH

Sebagai suatu ilmu, psikologi bersifat di­namis. Ia terbuka terhadap kemungkinan perubahan, perbaikan; pembaharuan, dan penyempurnaan. Sejarah ilmu psiko­logi secara jelas membentangkan kisah pada kita betapa konsep dasar, pan­dangan, teori, pendekatan, maupun teknik psikologi terus-terus mengalami peru­bahan. Sebagai misal, pada suatu masa pandangan yang mengedepan adalah bah­wa kehidupan manusia sangat ditentukan oleh kejadian-kejadian di masa lalunya. Pada masa berikutnya muncul pandangan baru dari Abraham H. Maslow yang meng­ungkapkan bahwa kalau seseorang terlalu berkiblat ke masa lalu, yang mungkin pe­nuh dengan luka, ia akan lupa dengan ke­mungkinan-kemungkinan yang sesungguh­nya terbentang luas.

Semangat memperbaiki yang lama atau menawarkan sesuatu yang baru untuk memahami manusia harus terus dikobar­kan dan tidak boleh padam. Ini bukan hanya bermaksud mewarisi teladan dari tokoh-­tokoh utama psikologi yang secara menge­sankan telah menunjukkan semangat pem­baharuannya. Lebih dari itu, usaha mem­perbaiki konsep, teori, pandangan, pende­katan, teknik, adalah tugas sejarah bagi se­tiap manusia, bagi setiap generasi, tak ter­kecuali ahli psikologi masa kini. (Dengan sendirinya kami menolak keyakinan atau pandangan yang menjalar pada sementara ahli psikologi masa kini bahwa psikologi yang ada saat ini sudah mencapai puncak­nya.)

Dua isu penting yang tampaknya cukup menarik untuk didiskusikan lebih jauh de­ngan penuh semangat pembaharuan ada­lah tema Indigenous Psychology dan Is­lamic Psychology. Kedua tema ini mempu­nyai satu titik kesamaan pandangan, yaitu bahwa psikologi yang berkembang dan rnenjadi arus utama (mainstream) saat ini adalah psikologi yang dirumuskan oleh ahli­-ahli yang hidup dan tumbuh pada masya­rakat Barat. Perumusan suatu ilmu tak akan pernah lepas dari nilai-nilai, sema­ngat, kebiasaan, cara berpikir masyarakat yang melingkupinya. Satu kenyataan yang tak dapat ditolak adalah kita hidup di suatu masyarakat yang mempunyai cara pan­dang, nilai-nilai, kebiasaan, yang berbeda dengan masyarakat di mana psikologi mu­la-mula dirumuskan dan dikembangkan. Karenanya, dibutuhkan usaha-usaha untuk menghasilkan psikologi yang sesuai de­ngan masyarakat setempat (Indigenous Psychology). Lebih dari itu, ada beberapa ahli mendambakan psikologi yang benar­-benar dibangun atas nilai-nilai dan sumber­-sumber dari dzat yang paling memahami manusia dan penuntun utama manusia, yaitu bersumber dari Ilahi melalui kitab suci yang diturunkan-Nya (Islamic Psychology).

Maka, secara transparan, PSIKOLO­GIKA bermaksud menempatkan diri seba­gai media yang mendorong dan mengem­bangkan kajian-kajian psikologi yang ber­nuansa Indonesia dan psikologi yang ber­dasarkan Islam. Kami berharap peminat psikologi Indigenous dan psikologi Islami dapat memanfaatkan media ini untuk menggali informasi tentang dua isu di atas; dan tentu kami harapkan partisipasi Anda untuk ikut mendiskusikan tema-tema di atas lebih lanjut.

Semoga sajian nomor pertama ini ber­kenan bagi Anda dan menumbuhkan dis­kusi yang hangat dan menarik.

Redaksi

TITIK TEMU

SENI DAN PSIKOLOGI

Pada tahun 1990-an ini, sebagaimana diung­kapkan John Naisbitt dan Patricia Aburde­ne dalam best-seller Megatrends 2000, seni semakin memasyarakat. Naisbitt dan Aburdene menyebutnya Dasawarsa Renaissans dalam Seni. Semakin populernya seni dalam kehi­dupan masyarakat dapat membuka wawasan baru tentang kegunaan seni. Seni tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan (bagi penikmat atau konsumen seni) atau wadah untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, atau persepsi seseorang (bagi pen­cipta karya seni). Lebih dari itu, seni dapat dipakai seba­gai terapi bagi penderita gangguan kejiwaan. Peng­gunaan seni dalam psikoter­api merupakan salah satu titik temu psikologi dengan seni.

Pemanfaatan seni se­bagai terapi ini dilatar-bela­kangi oleh semakin kompleksnya permasalahan ma­nusia moderen. Kehidupan moderen yang ditandai oleh kompetisi yang terkadang ta' mengenal rasa kemanusiaan sering terjadi dalam kehi­dupan ini. Karena kerasnya kehidupan itulah, maka bermunculan berbagai bentuk gangguan kejiwaan, seperti stres, de­presi, alienasi (keterasingan); kehilangan makna hidup, dan sebagainya. Adanya prob­lem-problem manusia moderen itu di satu sisi dan adanya kemungkinan memanfaatkan karya-karya seni dalam upaya penyembuhan gangguan kejiwaan manusia moderen di sisi lain mendorong lahirnya apa yang disebut sebagai terapi seni.

Di Eropa dan Amerika, seni sebagai terapi sudah berkembang sedemikian rupa. Saat ini dikenal apa yang disebut terapi drama, terapi tari, terapi musik, terapi lukis, bahkan terapi fotografi, terapi humor, dan tentu saja terapi puisi. Terapi-terapi ini digunakan di rumah sakit, klinik kejiwaan, maupun di rumah praktik spe­sialis psikologi dan psikiatri.

Di Indonesia, terapi seni juga telah dikenal dan dimanfaatkan kegunaannya. Di Kota Ma­lang, Jawa Timur, tepatnya di Klinik Kejiwaan Romo Jansen, terapi puisi sudah menjadi ba­gian dari upaya penyembuh­an bagi penderita gangguan kejiwaan.

Dengan demikian, terapi puisi dapat dipandang se­bagai sebuah alternatif dari terapi-terapi seni yang telah ada selama ini. Bahkan, tera­pi puisi dapat pula disebut se­bagai bagian dari terapi-te­rapi psikologi yang telah ber­kembang selama ini, seperti terapi psikoanalisis, terapi perilaku, terapi kognitif, terapi humanistik, terapi kelompok, terapi Gestalt, terapi rasio­nal-emotif, dan sebagainya.

Terapi puisi dapat dimanfaatkan kegunaan­nya karena puisi dapat mengekspresikan gan­jalan hati seseorang dan bila puisi itu diba­cakan atau ditulis dalam suatu media atau da­lam kelompok terapi memberi peluang ada­nya umpan balik dari pendengar atau pembaca.

Kalau kita ingat bahwa salah satu fungsi terapi adalah bagaimana penderita gangguan kejiwaan dapat membebaskan dirinya dari berbagai ganjalan hidup yang dialaminya, maka puisi karangan penderita adalah pilihan utama. Dengan mengarang puisi ini diharapkan mere­ka dapat mengungkapkan permasalahan-per­masalahannya, uneg-unegnya, obesesi-obse­sinya. Penggunaan puisi ciptaan penderita gangguan kejiwaan dianggap sebagai bahan yang paling efektif bagi penyembuhan penderita dibandingkan bila puisi itu ciptaan terapis atau puisi karya penyair terkenal.

Mengapa puisi karangan penderita dianggap paling efektif bagi penyembuhan gangguan penderita? Tak lain adalah dengan mencipta puisi sendiri penderita dapat membangkitkan kepercayaan diri bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu yang berharga. Bila puisi itu dikomunikasikan dalam suatu kelompok terapi, maka puisi itu dapat membangkitkan harga diri penderita di hadapan orang lain.

Namun, tak selamanya penderita gang­guan kejiwaan berhasil atau rela hati mencipta puisi sendiri. Tak selamanya pula si terapis ber­hasil mendorong penderita untuk menciptakan puisi sendiri. Kalau upaya-upaya yang dilaku­kan terapis tidak membawa hasil, maka ada dua macam pilihan yang dapat dipakai sebagai jalan keluar, yaitu memakai puisi ciptaan terapis dan menggunakan puisi karya penyair terkenal.

Penggunaan puisi ciptaan terapis dalam terapi puisi dapat menyadarkan penderita bah­wa semua orang pemah mengalami kesulitan hidup, termasuk orang yang tengah menjadi pembimbing atau penolong mereka. Puisi karya terapis juga dapat menyadarkan penderita bah­wa setiap orang harus bergulat dengan kesu­litan-kesulitan hidup serta harus mengeks­presikannya.

Penggunaan puisi penyair terkenal juga mempunyai kelebihan, yaitu penderita dapat mengidentifikasikan dirinya dengan keadaan jiwa sang penyair. Perasaan senasib yang dira­sakan oleh penderita terhadap penyair dapat mengembalikan semangat hidup mereka. Se­bagai contoh, seorang penderita yang tidak me­nyukai oknum pemerintahan yang mengandal­kan kesewenang-wenangan akan merasakan senasib dengan A. Mustofa Bisri bila ia mem­baca Mantraku Mantra Sakti dalam kumpulan puisi-puisi balsem. Ohoi (Pustaka Firdaus, Ja­karta, 1994: 71-72). .../Jika aku tak suka aktivitas/Atau kreativitas/Aku tinggal merapalkan stabilitas/Maka semua pun tuntas terbran­tas//Mantraku tak sembarang mantra/Aji-ajiku sakti tak terkira/Jika kufirmankan kata demi/ Maka akal dan nurani pun mati// Umat dan rak­yat azimat-ku/Pembangunan bangsa pesona­ku/Yang tertutup akulah yang menutup/Yang terbuka akulah yang menutup//.

Tak kurang dari itu, ditinjau dari teori hip­nosis yang menjadi salah satu dasar teknik terapi kejiwaan, pengucapan kata-kata itu ber­isikan suatu proses auto-sugesti. Auto-sugesti adalah upaya-upaya sadar untuk mempenga­ruhi diri sendiri, baik secara verbal maupun kog­nitif, agar seseorang menyenangi atau tidak menyenangi, melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Mengucapkan hal-hal yang baik ter­hadap diri sendiri adalah mensugesti diri agar memiliki sifat yang baik tersebut. Mengungkap­kan adanya penderitaan dalam diri, meman­dangnya secara humoristis dan kemudian membacakannya, akan menghadirkan kekuat­an yang dapat mendorong diri untuk melakukan tindakan atau pilihan hidup sebagaimana yang tertulis dalam puisi. Kalau penderita adalah seseorang yang merasa berdosa kepada ibu­nya, maka puisi Chairil Anwar yang berjudul Sendiri dalam kumpulan sajak Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Dian Rakyat, Jakarta, 1985:13) dapat membuatnya trenyuh. Hidupnya tambah sepi, tambah hampa/Malam apa lagi/ia memekik ngeri/Dicekik kesunyian kamarnya//Ia membenci. Dirinya dari segala/ Yang minta perempuan untuk kawannya/Ba­haya dari tiap sudut. Mendekat juga/Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama/ter­kejut ia terduduk Siapa memanggil itu?/Ah! Lemah lesu ia tersedu: lbu! Ibu!//

Begitulah sedikit hal mengenai keterkaitan seni dengan psikologi. Di masa-masa yang akan datang, tampaknya diperlukan kerjasama yang lebih nyata antara penyair dan terapis (psikolog, psikiater, dan pekerja sosial). Bisa jadi suatu saat terapis minta penyair untuk hadir dalam terapi yang diadakannya khusus pasien yang mengaguminya. Bisa jadi kehadiran pe­nyair dalam terapi akan menghadirkan inspirasi bagi lahimya puisi-puisi baru.●

Redaksi

PSIKOLOGI DAN SENI:

Sebuah Perjumpaan

Hanna Djumhana Bastaman

Tulisan ini bermaksud mencari titik temu antara dunia seni dan disiplin psikologi. Secara umum tulisan ini berusaha mengungkapkan bagaimana seni menggambarkan perilaku dan pengalaman manusia dan bagaimana psikologi meninjau hakikat seni dan karya-karya seni bagi psikologi, seni, kreasi seni, dan pertunjukan seni sebagai ungkapan nilai-nilai dan rasa estetika (1) dapat dijadikan bahan telaah psikologi dan (2) dapat dipakai sebagai salah satu sumber pengembangan hidup bermakna dan kesehatan jiwa. Sebaliknya, bagi pengembangan seni, psikologi dapat dimanfaatkan berkenaan dengan (1) proses kreatif dalam pencip­taan karya seni, (2) upaya menganalisis karakter tokoh-tokoh cerita, (3) pemahaman dan pengembangan pribadi seniman, dan (4) upaya memahami karakteristik perilaku penonton.

PENGANTAR

Judul tulisan ini mungkin menimbulkan suatu pertanyaan: Bagaimana mungkin psikologi sebagai sains yang sangat mem­fungsikan akalbudi dalam mempelajari pe­rilaku dan pengalaman manusia dapat ber­jumpa dengan seni (arts) yang sangat me­nekankan imajinasi dan perasaan dalam proses penciptaan dan pengungkapan kar­ya-karya seni? Psikologi sebagai ilmu pe­ngetahuan yang mempelajari perilaku ma­nusia pada dasarnya mempelajari manusia dan dunianya, yakni pengalaman manusia berhubungan dengan alam sekitar, masya­rakat, diri sendiri, dan dunia ide, termasuk alam keruhanian. Demikian juga ragam dan karya-karya seni (seni-rupa, sastra, musik, tari, teater dan film) pada dasarnya meng­ungkapkan fenomena manusia dan dunia­nya yang digambarkan secara estetis. Nilai estetika dan ungkapan-ungkapan estetis adalah dasar dan hakikat seni!

Dengan menjelaskan bagaimana seni menggambarkan perilaku dan pengalaman manusia dan bagaimana psikologi menin­jau hakikat seni dan karya-karya seni diha­rapkan dapat memberi gambaran adanya titik-temu antara psikologi dengan seni.

KARAKTER MANUSIA DALAM KARYA SENI

Sebagai ilustrasi di bawah ini diungkap­kan kutipan sebuah novel yang menggam­barkan saat-saat perjumpaan antara se­orang wanita dengan ibu kahdungnya. Wa­nita tersebut, yang diceraikan suami atas permintaan mertuanya, pulang membawa anaknya yang terkecil ke rumah orang tua­nya dengan perasaan galau dan malu.

“... Akan kutahankan. Betapa pun akan kutahankan seluruh kepedihanku, saat nanti berjumpa dengan orang tua. Begitulah niatku. Aku akan tenang saja agar jangan sampai menggoncangkan perasaan mereka. Dan akan pura-pura tak terjadi apa pun. Karena itu pelan sekali aku menghampiri beliau setelah meletakkan anakku. "Engkau, Nak?" sapa ibuku sing­kat. Tapi namanya pun seorang ibu, ibu yang tajam firasatnya. Kalimat singkat dengan so­rotan mata beliau jauh lebih banyak mengung­kapkan makna dari apa yang beliau ucapkan, terasa benar sentuhannya pada hatiku. Karena itu serasa hambar jawabanku: “Betul. Bagai­mana sehat, Mak”. Dengan tenang kuhampiri ibu. Bersalaman pun niatku akan santai saja seperti biasa. Tapi mata beliau yang serasa menghunjam sanubari, tak kuasa memben­dung luapan isi hatiku. Sebelum tanganku menyentuh tangan beliau serasa ada yang mendorongku ke muka. Aku merangkul ibuku, ibu yang menyebabkan aku lahir di dunia ini. Pecahlah bendungan rasa yang semula akan kutahankan.

Ibu duduk di bangku sebelah Si Bungsu, aku bersimpuh di bawah dengan kepalaku di pangkuan beliau, tersedu-sedu. Bukan tersedu, tetapi meraung barangkali. Buktinya hanya perasaanku saja mengetahui ada orang masuk ke dalam ruangan. Walaupun tak nampak dan tak terdengar suaranya, terasa Si Bungsu ada yang membawa ke luar. Dan samar-samar kudengar suara yang membujuk-bujuk anakku. Tak salah lagi, pasti Uwa Kiah yang baru saja masuk itu. Terasa kedua tangan ibu mengelus kepalaku. Aku memaksakan diri bangkit, serasa ditarik oleh sinar mata beliau. Tangan ibu menelusuri wajahku, dipegangnya daguku dite­ngadahkan. Dan bertemu-pandanglah dengan mata ibuku. Samar-samar kulihat air mata memburamkan putih matanya. Setelah itu...tes ada yang menetes hangat pada wajahku. Air mata beliau, duhai ibu!

Sedikit sadar waktu kurasa ibu men­ciumiku, tapi setelah itu aku sama sekali tak ingat lagi...."[1]

Ilustrasi singkat di atas menggambar­kan dengan sangat jelas sikap, pemikiran, perasaan, keinginan, perilaku, dan penga­laman-pengalaman unik seorang wanita yang baru diceraikan suami pada saat per­temuan dengan ibu kandung. Dalam hal ini salah satu kekhususan dan keunggulan pa­ra penulis novel dan drama (yang baik) ada­lah mereka telah mengungkapkan karakter manusia melalui penggambaran situasi nyata dan tingkah laku unik para pelaku cerita yang terlibat dalam situasi itu. Ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari psiko­logi yang juga antara lain mencoba meng­gambarkan perilaku dan pengalaman ma­nusia dalam situasi tertentu. Hanya saja psikologi agak lain menggambarkannya. Sebagai contoh bagaimana psikologi menggambarkan cerita di atas dalam ben­tuk sebuah laporan kasus sebagai berikut:

"Subjek mengalami stres, cemas dan depresi cukup intensif. Ia berusaha secara sadar mengendalikan emosinya melalui kendali diri bercorak represif-rasional, de­ngan harapan tidak terungkap secara overt. Motivasi-nya adalah untuk tidak menimbul­kan efek dan gangguan emosional pada orang lain terutama pada ibunya. Tetapi pada saat pertemuan dengan ibunya ternyata subjek gagal mengendalikan diri. Ia mengalami penurunan kesadaran dan menderita sinkop".­

Dari ilustrasi di atas tampak bahwa se­kalipun ada kesamaan antara psikologi dengan seni dalam mengungkapkan pe­ngalaman serta karakter dan perilaku ma­nusia, tetapi ada perbedaan di antara ke­duanya. antara lain:

a. Seni pada umumnya menggambarkan karakter manusia melalui penjabaran nyata dari perilaku, pemikiran, pengha­yatan, dialog, dan pengalaman unik sebagai ekspresi karakter yang di­maksud. Sedangkan psikologi meng­gambarkannya melalui penggunaan berbagai konsep dan terminologi teo­ritis yang baku.

b. Toleransi seni sangat besar terhadap penggunaan berbagai metafora dan visi pribadi dalam menggambarkan karak­ter manusia, sedangkan psikologi ber­usaha mengurangi sebanyak mungkin ungkapan metaforis dan bias-bias pri­badi dalam menggambarkan karakter.

c. Nilai utama yang mendasari seni ada­lah rasa estetika, sedangkan psikologi dilandasi oleh nilai ilmu. Dengan demi­kian imajinasi dan perasaan sangat dominan dalam kreasi dan pertunjuk­kan seni, sedangkan fakta dan rasio mendapat porsi tinggi-dalam analisis psikologi.

d. Menyenangkan dan menghibur penon­ton, banyaknya penggemar, menerima pujian, applause merupakan bagian tak terpisahkan bahkan mungkin dianggap salah satu tolok ukur keberhasilan dari ungkapan dan pertunjukkan seni. Sedangkan keberhasilan psikologi adalah sejauhmana tolok ukur kesehatan men­tal terpenuhi dengan tidak pertu me­ngaitkannya dengan tujuan penghi­buran.

e. Seni lebih tertarik untuk menggam­barkan keunikan karakter pribadi dalam situasi tertentu, sedangkan psikologi berusaha untuk mendapatkan asas­-asas tingkahlaku dan pengalaman ma­nusia dalam berbagai situasi pada umumnya.

f. Rekayasa artistik dan sentuhan estetis dilakukan dalam kesenian untuk menggambarkan manusia dan situasinya, sedangkan psikologi menggambarkannya secara objektif seperti apa adanya. Dengan demikian tak meng­herankan bila manusia dan dunianya digambarkan sangat nyata dan lebih hidup dalam karya seni dibanding da­lam laporan kasus-kasus psikologi.

SENI DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI

Psikologi -khususnya aliran psikologi Humanistika- mempelajari manusia dan kualitas-kualitas khas manusiawi yang tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk lain, terutama hewan. Kualitas-kualitas manusiawi itu an­tara lain: rasa tanggung jawab, kebebas­an pribadi, nilai dan penilaian, cinta kasih, makna hidup, hidup bermakna, religisitas, rasa etis dan estetis, kreativitas, pema­haman diri, pengembangan pribadi, aktuali­sasi diri, empati dan simpati, kehampaan hidup, dialogi, transendensi, humor, per­mainan, kemandirian, rasa bersalah, di­stansi-diri, ideologi, keimanan dan sebagai­nya. Dengan demikian seni, kreasi seni dan pertunjukkan seni sebagai ungkapan nilai­-nilai dan rasa estetis sudah tentu menjadi bahan telaah psikologi, karena hal itu meru­pakan salah satu kualitas insani.[2]

Selain menjadi bahan telaah psikologi, seni pun berfungsi sebagai salah satu sum­ber yang sangat penting bagi pengem­bangan hidup bermakna dan kesehatan jiwa. Dalam psikologi aliran Logo Terapi kehidupan yang bermakna, (the meaning­ful life) dapat diraih dengan jalan mema­hami, menghayati dan merealisasikan tri­nilai yaitu: Nilai-nilai kreatif (creative val­ues), niai-nilai penghayatan (experiential values) dan nilai-nilai bersikap (attitudi­nal values).[3] Artinya, hidup bermakna dapat dicapai melalui karya dan kegiatan berkarya yang bermanfaat, pengalaman dan penghayatan atas kebenaran (ideo­logi), keyakinan (agama), keindahan (seni), dan cinta kasih, serta sikap tepat atas peris­tiwa tragis yang tak dapat dielakkan lagi. Dalam hal ini menciptakan karya seni ada­lah ungkapan nilai-nilai kreatif, sedangkan mengalami dan menghayati karya-karya seni tergolong nilai-nilai penghayatan yang semuanya merupakan sumber makna hi­dup dan kesehatan mental.

Kreasi seni sebagai ekspresi perasaan (keindahan) dimanfaatkan dalam psikologi sebagai terapi yang disebut Terapi Serif (Art therapy). Kegiatan-kegiatan seperti menjadi, bernyanyi, melukis, pantomim, membawa novel, deklamasi, dan mencip­takan karya seni ternyata sangat mem­bantu melancarkan komunikasi antara pri­badi dan mengatasi hambatan emosional. Sedangkan bermain peran dalam drama singkat telah lama digunakan sebagai te­rapi yang dikenal dengan Psikodrama.[4] Demikian pula kegiatan menggambar dan mengarang cerita atas rangsangan gam­bar-gambar tertentu digunakan sebagai test diagnostik kepribadian, karena biasa­nya hal itu dapat memproyeksikan karak­ter seseorang.[5]

MANFAAT PSIKOLOGI BAGI SENIMAN

Sebenarnya cukup banyak manfaat psikologi bagi para seniman, baik sebagai pencipta karya seni maupun sebagai aktor/ aktris dan sutradara serta pengelola pertun­jukkan karya seni. Di bawah ini diungkap­kan rnanfaat psikologi dalam beberapa kegiatan yang berkaitan dengan kesenian yakni:

a. Kreasi seni

b. Analisis Karakter

c. Pengembangan pribadi seniman

d. Memahami perilaku penonton

a. Kreasi Seni

Gagasan yang muncul dalam pikiran, ataupun pengalaman dan penghayatan ba­tiniah tertentu yang menyentuh alam pera­saan dah imajinasi diolah secara kreatif dan estetis dengan senantiasa memperhatikan unsur-unsur artistik, sehingga terciptalah suatu karya seni. Setelah melalui berbagai perbaikan, penyempurnaan dan uji-coba barulah karya seni itu ditampilkan ke ma­syarakat.

Sekalipun proses penciptaan karya se­ni dapat hampir sepenuhnya tergantung pada diri pribadi si pencipta -terutama pada tahap munculnya gagasan dan pengalam­an batin- tetapi pada tahap-tahap selanjut­nya psikologi dapat dimanfaatkan sebagai unsur pendukung. Gagasan yang muncul dan pengalaman batin yang dihayati biasa­nya masih merupakan tema yang utuh, abstrak dan sangat umum serta belum me­miliki wujud untuk merealisasikannya se­cara tepat diperlukan berbagai pertimbang­an psikologi. Misalnya menentukan tokoh cerita dengan karakter tertentu dalam novel dan teater, gerakan tubuh sebagai lam­bang-lambang pada tarian, ekspresi dan impresi suatu lukisan dan patung, kese­rasian nada-nada, instrumen musik dan li­riknya, dan pemilihan kata-kata yang tepat dalam menyusun sajak diharapkan akan lebih mudah dilakukan dengan bantuan psi­kologi.

b. Analisis karakter

Analisis karakter sebagai usaha untuk memahami dan mendalami kepribadian (a.l. sikap, sifat, pemikiran, perasaan, has­rat dan perilaku) tokoh-tokoh cerita selalu dilakukan oleh sutradara dan para aktor/ aktris yang akan memerankan tokoh-tokoh itu dalam film dan teater. Di bawah ini dike­mukakan kutipan sebuah analisis karakter sebagai berikut:

Si Pengecut

Kepengecutan adalah mengerdilnya jiwa karena takut. Di laut waktu berlayar ia mengira batu karang sebagai bajak laut Kecemasannya timbul bila laut sedikit pasang, padahal penum­pang lain tak apa-apa. Sambil terus-menerus memandang langit ia bertanya-tanya kepada jurumudi bagaimana keadaan cuaca dan kapan mereka tiba di tempat tujuan. Kepada orang yang berdiri di sebelahnya ia berkata bahwa semalam ia bermimpi jelek. Lalu membuka jubah dan menitipkannya pada pembantu, mak­sudnya supaya ia mudah berenang. Bahkan akhimya ia memohon untuk segera diturunkan saja di pantai yang samar-samar masih kelihatan. Dalam tugas kemiliteran saat perang sedang berkecamuk ia memanggil anak buah­nya untuk berjaga jaga di sekelilingnya, karena katanya ia sulit membedakan mana musuh dan mana kawan. Mendengar deru suara pertem­puran dan melihat korban mulai berjatuhan, ia berkata pada kawan-kawannya bahwa ia ke­tinggalan pedang di tenda, lalu cepat-cepat pu­!ang ke garis belakang. Tiba di kemah ia me­nyuruh pembantunya keluar untuk berjaga-jaga sekitar kemah, dan ia sendiri cepat-cepat me­nyembunyikan pedangnya di bawah bantal, lalu pura-pura sibuk mencari-cari senjata. Kebe­tulan ada tentara dibawa pulang karena teduka, lalu ia ikut memapahnya dan mengatakan ke­pada si korban supaya jangan putus asa karena ia akan mengurusnya baik-baik. Kemudian ia membersihkan darah dari luka itu, lalu duduk di sebelahnya untuk mengusir lalat yang be­terbangan di sekitarnya serta melakukan ber­bagai kesibukan kecuali berperang. Mendengar bunyi terompet pemberi semangat, ia ber­sungut-sungut: "Sialan, mana bisa orang malang ini tenang beristirahat bila terompet tak henti-hentinya dibunyikan". Dengan baju penuh darah dari tentara yang luka itu ia keluar dari tendanya menyambut tentara-tentara yang baru kembali dari pertempuran dan mengata­kan kepada mereka bahwa ia telah menyelamatkan seorang teman dengan memper­taruhkan nyawa sendiri. Lalu ia membawa mereka ke dalam tendanya dan mengatakan berulang-ulang bahwa ia sendiri yang menyela­matkan si korban dan membawa untuk me­nampung di tendanya.[6]

Gambaran karakter di atas adalah kar­ya Theophrastus, seorang penulis Yunani dan pakar dalam menganalisis karakter manusia. Ia hidup sekitar 2.200 tahun yang lalu. Sekalipun tulisannya telah berumur sa­ngat tua, tetapi gambaran berbagai karak­ter yang telah disusunnya sangat nyata dan hidup serta tetap aktual. Artinya setiap ku­run selalu ada manusia-manusia dengan berbagai perilaku yang menggambarkan karakter tertentu, termasuk manusia-ma­nusia penakut.

Analisis karakter seperti digambarkan Theophrastus biasanya tidak jauh berbeda dengan analisis karakter yang dilakukan para aktor dan aktris masa kini, yakni ber­usaha menemukan sifat dasar (main trait) tokoh cerita, kemudian menjabarkan bagai­mana sifat dasar itu terungkap dalam kata-­kata, gerak-gerik, dan perilaku dalam si­tuasi tertentu. Atau sebaliknya dari dialog dan petunjuk perilaku yang ditulis dalam naskah dapat juga ditentukan bagaimana kira-kira sifat dasar dari karakter tokoh itu. Dalam prakteknya kedua cara itu dilakukan bersamaan.

Walaupun analisis karakter seperti di­gambarkan Theophrastus sangat mudah dibayangkan -karena sifat dasar itu dijabar­kan dalam berbagai perilaku nyata-, tetapi usaha seperti ini mengandung suatu kele­mahan, karena manusia seakan-akan di­tampilkan secara karikaturis dan sempit, yakni sikap, sifat, perilaku, perasaan, pe­mikiran, hasrat, dan angan-angan manusia hanya berpola pada satu dasar tertentu. Padahal manusia memiliki banyak unsur psikofisik dengan proses sangat majemuk dan dinamis serta selalu ada kemungkinan untuk berubah. Ia pun mengandung ber­bagai kontroversi dalam dirinya dan ber­peluang untuk mendalami konflik dengan diri sendiri dan orang lain. Manusia pun ter­buka terhadap lingkungan: Ia dapat terpe­ngaruh oleh lingkungan dan sebaliknya dapat mempengaruhi lingkungan. Tak mengherankan bila setiap Pribadi selain memiliki kesamaan dengan seluruh umat manusia, juga ada kesamaan dan per­bedaan dalam tipe kepribadiannya, bahkan keunikan dirinya membedakan seseorang dengan orang lain seperti ujar Kluckhohn & Murry:[7]

Every man is in certain respects

a. Like all other men

b. Like some other men

c. Like no other man

Keunikan manusia tampak antara lain dalam berbagai cara mengungkapkan has­rat (perasaan, pemikiran, angan-angan, dsb). Mungkin ia mengekspresikannya se­cara langsung dan sesuai dengan aria yang dihasrati, mungkin pula tak langsung dan menunda, atau bahkan menyangkal apa yang benar-benar dihasratinya. Semuanya menunjukkan adanya Kebebasan berkehendak (the freedom of will) sebagai salah satu karakteristik manusia.[8]

Memahami psikologi -khususnya psi­kologi Kepribadian sangat penting dalam usaha melakukan analisis karakter tokoh yang akan diperankan, sehingga pema­haman dan penghayatan atas tokoh cerita akan lebih mendalam, kreatif dan ilmiah. Tanpa pengetahuan psikologi dikhawatir­kan analisis karakter meniadi dangkal, sempit, stereotipik dan menggelikan.

c. Pemahaman dan Pengembangan Pribadi Seniman

Pengembangan pribadi (bakat, ke­mampuan, ketrampilan, penghayatan, ima­jinasi, kreativitas, dsb) sudah tentu dike­hendaki oleh semua orang yang ingin ber­prestasi dan berprestise.

Dalam psikologi ada beberapa langkah untuk mengembangkan diri:

Langkah pertama, menjajagi motivasi untuk mengembangkan diri. Ini dilakukan dengan jalan bertanya pada diri sendiri apa­kah kita sudah puas dengan keadaan se­perti sekarang atau masih ada keinginan untuk lebih mengembangkan diri. Bila ter­nyata kita sudah merasa puns dengan keadaan seperti sekarang, maka tak usahlah berpayah-payah mengembangkan diri. Te­tapi bila benar-benar kita belum puas de­ngan kondisi kita saat ini, maka Pengem­bangan diri perlu dilakukan. Langkah ke­dua, mengenal dan memahami berbagai keunggulan dan kelemahan diri pribadi, baik yang masih merupakan bakat (potensi) maupun yang sudah terealisasi menjadi si­fat, kemampuan dan ketrampilan nyata (ak­tualisasi). Langkah ketiga, memilih hal-hal apa yang paling penting dan bermakna un­tuk ditingkatkan dan menentukan pula hal-­hal yang perlu dihilangkan atau dikurangi. Usaha ini perlu mempertimbangkan unsure-­unsur yang menunjang dan menghambat pengembangan diri, baik yang bersumber dari diri sendiri maupun lingkungan. Lang­kah keempat, adalah melakukan upaya nyata untuk meningkatkan apa yang baik dan mengurangi apa yang kurang baik. Langkah ini adalah langkah yang paling be­rat, karena perlu motivasi kuat, keuletan kerja, waktu yang banyak, dan dukungan lingkungan. Selanjutnya, langkah kelima adalah evaluasi diri atas keberhasilan dan kegagalan upaya peningkatan diri serta menentukan apa yang akan dilakukan se­bagai tindak lanjut.

Inti dari proses/langkah-langkah Pe­ngembangan pribadi adalah kesadaran atas diri sendiri dan kemauan untuk mem­perbaiki kondisi diri. Sudah tentu pengetahuan psikologi diharapkan dapat mem­bantu mereka yang ingi memahami diri dan berusaha mengembangkannya. Hal ini ber­laku bagi para insan seni yang selalu ingin meningkatkan bakat, kemampuan, kete­rampilan dan keahliannya guna meraih prestasi dan prestise!

d. Memahami perilaku penonton

Penonton atau audience adalah seke lompok orang yang hadir pada waktu dan tempat yang sama untuk menyaksikan su­atu obyek/kegiatan tertentu sebagai pusat perhatian. Contoh: sekelompok orang me­nonton pertunjukkan lawak di sebuah ge­dung pertunjukkan.

Dalam menyaksikan pertunjukkan la­wak tersebut kita melihat bermacam-ma­cam perilaku penonton. Ada yang sekadar tersenyum-senyum saja, ada yang tertawa­-tawa kecil, ada yang tertawa terbahak­-bahak dengan mulut terbuka lebar, ada yang terpingkal-pingkal sambil memegang kulit perut, bahkan ada yang terbahak­-bahak sambil bergegas ke kamar kecil. Kejadian ini menunjukkan penonton sedang bersama-sama tertawa (laughing with) me­nertawakan para pelawak menjalankan profesinya (laughing at), sekalipun masing­-masing penonton secara individual menun­jukkan perbedaan intensitas tawa mereka.

Ada beberapa karakteristik dari ke­lompok audience ini, antara lain:

Ikatan kelompok longgar, keberadaan kelompok berlangsung sejalan dengan la­manya obyek/kegiatan yang disaksikan, terdapat berbagai pola respons sesuai de­ngan intensitas perasaan tertarik kelompok dan jenis obyek/kegiatan menonton me­libatkan keseluruhan unsur raga dan jiwa secara utuh.

Hal penting yang perlu dipahami me­ngenai perilaku penonton, -dalam hal ini penonton karya seni-, adalah: Apa yang menyebabkan penonton menyaksikan ke­giatan (pameran, pertunjukkan) seni? De­ngan lain perkataan: Apa motivasi mereka menonton?

Psikologi menunjukkan bahwa ke­butuhan atas sesuatu terjadi karena seseorang merasa bahwa hal itu penting dan bermakna baginya. Karena itu ia membu­tuhkannya, antara lain untuk mengisi kekurangan dirinya, memenuhi rasa ingin tahu dan minatnya. Selain bersumber dari diri sendiri, kebutuhan pun tirnbul karena pe­ngaruh dari luar, seperti informasi yang diterima, pendidikan dan pergaulan, serta kebutuhan adalah kondisi yang memudah­kan terpenuhinya kebutuhan tersebut, misalnya saja ketersediaan yang diperlukan itu, kondisi keuangan, dan tempat yang mudah dijangkau. Ini berlaku juga bagi pertunjukkan karya-karya seni, sehingga sekurang-kurangnya ada tiga hal yang da­pat menimbulkan motivasi untuk menyaksi­kan pertunjukkan seni. Keduanya berkaitan dan saling mendukung satu dengan lainnya yakni:

1. Kebutuhan dan minat alas karya-karya seni.

2. Informasi yang cukup mengenai ke­giatan seni.

3. Kondisi yang memungkinkan untuk me­nyaksikan pertunjukkan seni.

Ketiga unsur motivasi ini secara implisit menunjukkan bahwa seni selain memiliki fungsi menghasilkan karya-seni (creating), menghibur (entertaining), dan memenuhi minat masyarakat, juga memiliki fungsi mendidik agar masyarakat memiliki apre­siasi atas seni dan karya-karya seni. Ini dilakukan antara lain dengan jalan mem­berikan informasi yang berkesinambungan mengenai seni dan karya-karya seni yang bermutu serta memberi kesempatan me­nyaksikannya. Ceramah, diskuksi, pera­gaan, dan dialog-dialog lainnya dengan pa­ra pelajar di sekolah merupakan contoh usaha nyata yang dapat dilakukan. Dengan demikian penonton sebenarnya dapat di­didik untuk menghargai dan menyenangi karya-karya seni bermutu.

KESIMPULAN

Ternyata fenomena "Manusia dan Du­nianya" adalah titik temu psikologi dan seni. Keduanya melibatkan diri dalam fenomena ini dan sering menjadikannya sebagaI tema sentral kaitan psikologi dan kreasi seni. Keduanya (seharusnya) sating membutuh­kan dalam mempertajam pemahaman ten­tang manusia.

Mengingat begitu erat kaitan antara se­ni dengan psikologi, maka tak menghe­rankan bila Gordon W. Allport, seorang pakar psikologi kepribadian, dalam buku Personality: A Problem for Science of For Art? menyampaikan sebuah saran sebagai berikut: if you are a student of psychology, read many, many novels and dramas of character, and read biography. If you are not a student psychology, read these too, but read psychology as well. [9]

Saran Allport ini secara tidak langsung menunjukkan pula titIk temu antara psi­kologi dengan seni. Sudah tentu saran baik ini pun dapat dijabarkan lebih lanjut lagi bagi para psikolog dan para insan seni sebagai berikut: Bila Anda seorang psikolog, sering-­seringlah membaca novel, melihat pame­ran seni rupa dan foto, menonton film dan teater, menikmati musik/seni-suara dan tari, menyimak makna sajak, menyaksikan pagelaran seni tradisional dan kontem­porer. Dan jangan lupa berbincang-bincang hangat dengan para seniman. Sebaliknya, bila Anda adalah insan-insan seni, baik se­bagai actor/aktris, sutradara, pencipta kar­ya seni, guru-seni, penulis, maupun pe­ngelola pertunjukan seni, pelajarilah secara intensif psikologi untuk memahami. moti­vasi, persepsi, dan emosi, imajinasi dan kreativitas; komunikasi efektif; pengenalan dan pengembangan diri; temperamen, ka­rakter dan kepribadian, pendidikan dan cara-cara mengajar efektif, perilaku rne­nyimpang dan ketrampilan konseling; penghayatan etis dan estetis, serta hakikat ma­nusia. Dan berteman baiklah dengan psi­kolog!




[1] Terjemahan bebas dari novel Sunda PIPISAHAN karya R.A.F (Pustaka Jaya, 1977).

[2] Lihat Existential Psychotherapy karya Irving Yalom, New York: Basic Book, Inc. Publishers, 1980, hal. 18.

[3] Tentang nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap sebagai sumber makna hi­dup, dimuat dalam hampir semua kepusta­kaan mengenai Logoterapi.

[4] Psikodrama sebagai psikoterapi di­kembangkan oleh Moreno semenjak tahun tigah puluhan.

[5] Misalnya Rorschach Test, Thematic Apperception Test (TAT), dan tes grafis (Draw A Person, House-Tree-Person).

[6] Diterjemahkan dari `The Coward" da­lam Psychotherapy and Social Encounter karya G. W. Allport, Boston: Beacon Press, 1960.

[7] Ucapan terkenal dari Clyde Cluckhohn dan Henry Murray ini terdapat pada Per­sonality Formation: The Determinants" dalam buku suntingan mereka Personality in Nature, Society and Culture, New York: Alfred A. Knopf: Yayasan lnsan Kamil.

[8] Seperti halnya nilai-nilai sumber makna hidup, The Freedom of Will ini terdapat hampir semua buku mengenai Logoterapi.

[9] G.W Allport, Personality and Social Encounter, Boston: Beacon Press, 1960, hat. 15.

2 komentar:

Rizki R Ramdani mengatakan...

tulisannya menginspirasi. trimakasih ^_^

Unknown mengatakan...

nice article... sangat bermanfaat...
Makasih yaah...

Posting Komentar