SEKAPUR SIRIH
Sebagai suatu ilmu, psikologi bersifat dinamis. Ia terbuka terhadap kemungkinan perubahan, perbaikan; pembaharuan, dan penyempurnaan. Sejarah ilmu psikologi secara jelas membentangkan kisah pada kita betapa konsep dasar, pandangan, teori, pendekatan, maupun teknik psikologi terus-terus mengalami perubahan. Sebagai misal, pada suatu masa pandangan yang mengedepan adalah bahwa kehidupan manusia sangat ditentukan oleh kejadian-kejadian di masa lalunya. Pada masa berikutnya muncul pandangan baru dari Abraham H. Maslow yang mengungkapkan bahwa kalau seseorang terlalu berkiblat ke masa lalu, yang mungkin penuh dengan luka, ia akan lupa dengan kemungkinan-kemungkinan yang sesungguhnya terbentang luas.
Semangat memperbaiki yang lama atau menawarkan sesuatu yang baru untuk memahami manusia harus terus dikobarkan dan tidak boleh padam. Ini bukan hanya bermaksud mewarisi teladan dari tokoh-tokoh utama psikologi yang secara mengesankan telah menunjukkan semangat pembaharuannya. Lebih dari itu, usaha memperbaiki konsep, teori, pandangan, pendekatan, teknik, adalah tugas sejarah bagi setiap manusia, bagi setiap generasi, tak terkecuali ahli psikologi masa kini. (Dengan sendirinya kami menolak keyakinan atau pandangan yang menjalar pada sementara ahli psikologi masa kini bahwa psikologi yang ada saat ini sudah mencapai puncaknya.)
Dua isu penting yang tampaknya cukup menarik untuk didiskusikan lebih jauh dengan penuh semangat pembaharuan adalah tema Indigenous Psychology dan Islamic Psychology. Kedua tema ini mempunyai satu titik kesamaan pandangan, yaitu bahwa psikologi yang berkembang dan rnenjadi arus utama (mainstream) saat ini adalah psikologi yang dirumuskan oleh ahli-ahli yang hidup dan tumbuh pada masyarakat Barat. Perumusan suatu ilmu tak akan pernah lepas dari nilai-nilai, semangat, kebiasaan, cara berpikir masyarakat yang melingkupinya. Satu kenyataan yang tak dapat ditolak adalah kita hidup di suatu masyarakat yang mempunyai cara pandang, nilai-nilai, kebiasaan, yang berbeda dengan masyarakat di mana psikologi mula-mula dirumuskan dan dikembangkan. Karenanya, dibutuhkan usaha-usaha untuk menghasilkan psikologi yang sesuai dengan masyarakat setempat (Indigenous Psychology). Lebih dari itu, ada beberapa ahli mendambakan psikologi yang benar-benar dibangun atas nilai-nilai dan sumber-sumber dari dzat yang paling memahami manusia dan penuntun utama manusia, yaitu bersumber dari Ilahi melalui kitab suci yang diturunkan-Nya (Islamic Psychology).
Maka, secara transparan, PSIKOLOGIKA bermaksud menempatkan diri sebagai media yang mendorong dan mengembangkan kajian-kajian psikologi yang bernuansa Indonesia dan psikologi yang berdasarkan Islam. Kami berharap peminat psikologi Indigenous dan psikologi Islami dapat memanfaatkan media ini untuk menggali informasi tentang dua isu di atas; dan tentu kami harapkan partisipasi Anda untuk ikut mendiskusikan tema-tema di atas lebih lanjut.
Semoga sajian nomor pertama ini berkenan bagi Anda dan menumbuhkan diskusi yang hangat dan menarik.
Redaksi
TITIK TEMU
SENI DAN PSIKOLOGI
Pada tahun 1990-an ini, sebagaimana diungkapkan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam best-seller Megatrends 2000, seni semakin memasyarakat. Naisbitt dan Aburdene menyebutnya Dasawarsa Renaissans dalam Seni. Semakin populernya seni dalam kehidupan masyarakat dapat membuka wawasan baru tentang kegunaan seni. Seni tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk mendapatkan hiburan (bagi penikmat atau konsumen seni) atau wadah untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, atau persepsi seseorang (bagi pencipta karya seni). Lebih dari itu, seni dapat dipakai sebagai terapi bagi penderita gangguan kejiwaan. Penggunaan seni dalam psikoterapi merupakan salah satu titik temu psikologi dengan seni.
Pemanfaatan seni sebagai terapi ini dilatar-belakangi oleh semakin kompleksnya permasalahan manusia moderen. Kehidupan moderen yang ditandai oleh kompetisi yang terkadang ta' mengenal rasa kemanusiaan sering terjadi dalam kehidupan ini. Karena kerasnya kehidupan itulah, maka bermunculan berbagai bentuk gangguan kejiwaan, seperti stres, depresi, alienasi (keterasingan); kehilangan makna hidup, dan sebagainya. Adanya problem-problem manusia moderen itu di satu sisi dan adanya kemungkinan memanfaatkan karya-karya seni dalam upaya penyembuhan gangguan kejiwaan manusia moderen di sisi lain mendorong lahirnya apa yang disebut sebagai terapi seni.
Di Eropa dan Amerika, seni sebagai terapi sudah berkembang sedemikian rupa. Saat ini dikenal apa yang disebut terapi drama, terapi tari, terapi musik, terapi lukis, bahkan terapi fotografi, terapi humor, dan tentu saja terapi puisi. Terapi-terapi ini digunakan di rumah sakit, klinik kejiwaan, maupun di rumah praktik spesialis psikologi dan psikiatri.
Di Indonesia, terapi seni juga telah dikenal dan dimanfaatkan kegunaannya. Di Kota Malang, Jawa Timur, tepatnya di Klinik Kejiwaan Romo Jansen, terapi puisi sudah menjadi bagian dari upaya penyembuhan bagi penderita gangguan kejiwaan.
Dengan demikian, terapi puisi dapat dipandang sebagai sebuah alternatif dari terapi-terapi seni yang telah ada selama ini. Bahkan, terapi puisi dapat pula disebut sebagai bagian dari terapi-terapi psikologi yang telah berkembang selama ini, seperti terapi psikoanalisis, terapi perilaku, terapi kognitif, terapi humanistik, terapi kelompok, terapi Gestalt, terapi rasional-emotif, dan sebagainya.
Terapi puisi dapat dimanfaatkan kegunaannya karena puisi dapat mengekspresikan ganjalan hati seseorang dan bila puisi itu dibacakan atau ditulis dalam suatu media atau dalam kelompok terapi memberi peluang adanya umpan balik dari pendengar atau pembaca.
Kalau kita ingat bahwa salah satu fungsi terapi adalah bagaimana penderita gangguan kejiwaan dapat membebaskan dirinya dari berbagai ganjalan hidup yang dialaminya, maka puisi karangan penderita adalah pilihan utama. Dengan mengarang puisi ini diharapkan mereka dapat mengungkapkan permasalahan-permasalahannya, uneg-unegnya, obesesi-obsesinya. Penggunaan puisi ciptaan penderita gangguan kejiwaan dianggap sebagai bahan yang paling efektif bagi penyembuhan penderita dibandingkan bila puisi itu ciptaan terapis atau puisi karya penyair terkenal.
Mengapa puisi karangan penderita dianggap paling efektif bagi penyembuhan gangguan penderita? Tak lain adalah dengan mencipta puisi sendiri penderita dapat membangkitkan kepercayaan diri bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu yang berharga. Bila puisi itu dikomunikasikan dalam suatu kelompok terapi, maka puisi itu dapat membangkitkan harga diri penderita di hadapan orang lain.
Namun, tak selamanya penderita gangguan kejiwaan berhasil atau rela hati mencipta puisi sendiri. Tak selamanya pula si terapis berhasil mendorong penderita untuk menciptakan puisi sendiri. Kalau upaya-upaya yang dilakukan terapis tidak membawa hasil, maka ada dua macam pilihan yang dapat dipakai sebagai jalan keluar, yaitu memakai puisi ciptaan terapis dan menggunakan puisi karya penyair terkenal.
Penggunaan puisi ciptaan terapis dalam terapi puisi dapat menyadarkan penderita bahwa semua orang pemah mengalami kesulitan hidup, termasuk orang yang tengah menjadi pembimbing atau penolong mereka. Puisi karya terapis juga dapat menyadarkan penderita bahwa setiap orang harus bergulat dengan kesulitan-kesulitan hidup serta harus mengekspresikannya.
Penggunaan puisi penyair terkenal juga mempunyai kelebihan, yaitu penderita dapat mengidentifikasikan dirinya dengan keadaan jiwa sang penyair. Perasaan senasib yang dirasakan oleh penderita terhadap penyair dapat mengembalikan semangat hidup mereka. Sebagai contoh, seorang penderita yang tidak menyukai oknum pemerintahan yang mengandalkan kesewenang-wenangan akan merasakan senasib dengan A. Mustofa Bisri bila ia membaca Mantraku Mantra Sakti dalam kumpulan puisi-puisi balsem. Ohoi (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994: 71-72). .../Jika aku tak suka aktivitas/Atau kreativitas/Aku tinggal merapalkan stabilitas/Maka semua pun tuntas terbrantas//Mantraku tak sembarang mantra/Aji-ajiku sakti tak terkira/Jika kufirmankan kata demi/ Maka akal dan nurani pun mati// Umat dan rakyat azimat-ku/Pembangunan bangsa pesonaku/Yang tertutup akulah yang menutup/Yang terbuka akulah yang menutup//.
Tak kurang dari itu, ditinjau dari teori hipnosis yang menjadi salah satu dasar teknik terapi kejiwaan, pengucapan kata-kata itu berisikan suatu proses auto-sugesti. Auto-sugesti adalah upaya-upaya sadar untuk mempengaruhi diri sendiri, baik secara verbal maupun kognitif, agar seseorang menyenangi atau tidak menyenangi, melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Mengucapkan hal-hal yang baik terhadap diri sendiri adalah mensugesti diri agar memiliki sifat yang baik tersebut. Mengungkapkan adanya penderitaan dalam diri, memandangnya secara humoristis dan kemudian membacakannya, akan menghadirkan kekuatan yang dapat mendorong diri untuk melakukan tindakan atau pilihan hidup sebagaimana yang tertulis dalam puisi. Kalau penderita adalah seseorang yang merasa berdosa kepada ibunya, maka puisi Chairil Anwar yang berjudul Sendiri dalam kumpulan sajak Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Dian Rakyat, Jakarta, 1985:13) dapat membuatnya trenyuh. Hidupnya tambah sepi, tambah hampa/Malam apa lagi/ia memekik ngeri/Dicekik kesunyian kamarnya//Ia membenci. Dirinya dari segala/ Yang minta perempuan untuk kawannya/Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga/Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama/terkejut ia terduduk Siapa memanggil itu?/Ah! Lemah lesu ia tersedu: lbu! Ibu!//
Begitulah sedikit hal mengenai keterkaitan seni dengan psikologi. Di masa-masa yang akan datang, tampaknya diperlukan kerjasama yang lebih nyata antara penyair dan terapis (psikolog, psikiater, dan pekerja sosial). Bisa jadi suatu saat terapis minta penyair untuk hadir dalam terapi yang diadakannya khusus pasien yang mengaguminya. Bisa jadi kehadiran penyair dalam terapi akan menghadirkan inspirasi bagi lahimya puisi-puisi baru.●
Redaksi
PSIKOLOGI DAN SENI:
Sebuah Perjumpaan
Hanna Djumhana Bastaman
Tulisan ini bermaksud mencari titik temu antara dunia seni dan disiplin psikologi. Secara umum tulisan ini berusaha mengungkapkan bagaimana seni menggambarkan perilaku dan pengalaman manusia dan bagaimana psikologi meninjau hakikat seni dan karya-karya seni bagi psikologi, seni, kreasi seni, dan pertunjukan seni sebagai ungkapan nilai-nilai dan rasa estetika (1) dapat dijadikan bahan telaah psikologi dan (2) dapat dipakai sebagai salah satu sumber pengembangan hidup bermakna dan kesehatan jiwa. Sebaliknya, bagi pengembangan seni, psikologi dapat dimanfaatkan berkenaan dengan (1) proses kreatif dalam penciptaan karya seni, (2) upaya menganalisis karakter tokoh-tokoh cerita, (3) pemahaman dan pengembangan pribadi seniman, dan (4) upaya memahami karakteristik perilaku penonton.
PENGANTAR
Judul tulisan ini mungkin menimbulkan suatu pertanyaan: Bagaimana mungkin psikologi sebagai sains yang sangat memfungsikan akalbudi dalam mempelajari perilaku dan pengalaman manusia dapat berjumpa dengan seni (arts) yang sangat menekankan imajinasi dan perasaan dalam proses penciptaan dan pengungkapan karya-karya seni? Psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia pada dasarnya mempelajari manusia dan dunianya, yakni pengalaman manusia berhubungan dengan alam sekitar, masyarakat, diri sendiri, dan dunia ide, termasuk alam keruhanian. Demikian juga ragam dan karya-karya seni (seni-rupa, sastra, musik, tari, teater dan film) pada dasarnya mengungkapkan fenomena manusia dan dunianya yang digambarkan secara estetis. Nilai estetika dan ungkapan-ungkapan estetis adalah dasar dan hakikat seni!
Dengan menjelaskan bagaimana seni menggambarkan perilaku dan pengalaman manusia dan bagaimana psikologi meninjau hakikat seni dan karya-karya seni diharapkan dapat memberi gambaran adanya titik-temu antara psikologi dengan seni.
KARAKTER MANUSIA DALAM KARYA SENI
Sebagai ilustrasi di bawah ini diungkapkan kutipan sebuah novel yang menggambarkan saat-saat perjumpaan antara seorang wanita dengan ibu kahdungnya. Wanita tersebut, yang diceraikan suami atas permintaan mertuanya, pulang membawa anaknya yang terkecil ke rumah orang tuanya dengan perasaan galau dan malu.
“... Akan kutahankan. Betapa pun akan kutahankan seluruh kepedihanku, saat nanti berjumpa dengan orang tua. Begitulah niatku. Aku akan tenang saja agar jangan sampai menggoncangkan perasaan mereka. Dan akan pura-pura tak terjadi apa pun. Karena itu pelan sekali aku menghampiri beliau setelah meletakkan anakku. "Engkau, Nak?" sapa ibuku singkat. Tapi namanya pun seorang ibu, ibu yang tajam firasatnya. Kalimat singkat dengan sorotan mata beliau jauh lebih banyak mengungkapkan makna dari apa yang beliau ucapkan, terasa benar sentuhannya pada hatiku. Karena itu serasa hambar jawabanku: “Betul. Bagaimana sehat, Mak”. Dengan tenang kuhampiri ibu. Bersalaman pun niatku akan santai saja seperti biasa. Tapi mata beliau yang serasa menghunjam sanubari, tak kuasa membendung luapan isi hatiku. Sebelum tanganku menyentuh tangan beliau serasa ada yang mendorongku ke muka. Aku merangkul ibuku, ibu yang menyebabkan aku lahir di dunia ini. Pecahlah bendungan rasa yang semula akan kutahankan.
Ibu duduk di bangku sebelah Si Bungsu, aku bersimpuh di bawah dengan kepalaku di pangkuan beliau, tersedu-sedu. Bukan tersedu, tetapi meraung barangkali. Buktinya hanya perasaanku saja mengetahui ada orang masuk ke dalam ruangan. Walaupun tak nampak dan tak terdengar suaranya, terasa Si Bungsu ada yang membawa ke luar. Dan samar-samar kudengar suara yang membujuk-bujuk anakku. Tak salah lagi, pasti Uwa Kiah yang baru saja masuk itu. Terasa kedua tangan ibu mengelus kepalaku. Aku memaksakan diri bangkit, serasa ditarik oleh sinar mata beliau. Tangan ibu menelusuri wajahku, dipegangnya daguku ditengadahkan. Dan bertemu-pandanglah dengan mata ibuku. Samar-samar kulihat air mata memburamkan putih matanya. Setelah itu...tes ada yang menetes hangat pada wajahku. Air mata beliau, duhai ibu!
Sedikit sadar waktu kurasa ibu menciumiku, tapi setelah itu aku sama sekali tak ingat lagi...."[1]
Ilustrasi singkat di atas menggambarkan dengan sangat jelas sikap, pemikiran, perasaan, keinginan, perilaku, dan pengalaman-pengalaman unik seorang wanita yang baru diceraikan suami pada saat pertemuan dengan ibu kandung. Dalam hal ini salah satu kekhususan dan keunggulan para penulis novel dan drama (yang baik) adalah mereka telah mengungkapkan karakter manusia melalui penggambaran situasi nyata dan tingkah laku unik para pelaku cerita yang terlibat dalam situasi itu. Ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari psikologi yang juga antara lain mencoba menggambarkan perilaku dan pengalaman manusia dalam situasi tertentu. Hanya saja psikologi agak lain menggambarkannya. Sebagai contoh bagaimana psikologi menggambarkan cerita di atas dalam bentuk sebuah laporan kasus sebagai berikut:
"Subjek mengalami stres, cemas dan depresi cukup intensif. Ia berusaha secara sadar mengendalikan emosinya melalui kendali diri bercorak represif-rasional, dengan harapan tidak terungkap secara overt. Motivasi-nya adalah untuk tidak menimbulkan efek dan gangguan emosional pada orang lain terutama pada ibunya. Tetapi pada saat pertemuan dengan ibunya ternyata subjek gagal mengendalikan diri. Ia mengalami penurunan kesadaran dan menderita sinkop".
Dari ilustrasi di atas tampak bahwa sekalipun ada kesamaan antara psikologi dengan seni dalam mengungkapkan pengalaman serta karakter dan perilaku manusia, tetapi ada perbedaan di antara keduanya. antara lain:
a. Seni pada umumnya menggambarkan karakter manusia melalui penjabaran nyata dari perilaku, pemikiran, penghayatan, dialog, dan pengalaman unik sebagai ekspresi karakter yang dimaksud. Sedangkan psikologi menggambarkannya melalui penggunaan berbagai konsep dan terminologi teoritis yang baku.
b. Toleransi seni sangat besar terhadap penggunaan berbagai metafora dan visi pribadi dalam menggambarkan karakter manusia, sedangkan psikologi berusaha mengurangi sebanyak mungkin ungkapan metaforis dan bias-bias pribadi dalam menggambarkan karakter.
c. Nilai utama yang mendasari seni adalah rasa estetika, sedangkan psikologi dilandasi oleh nilai ilmu. Dengan demikian imajinasi dan perasaan sangat dominan dalam kreasi dan pertunjukkan seni, sedangkan fakta dan rasio mendapat porsi tinggi-dalam analisis psikologi.
d. Menyenangkan dan menghibur penonton, banyaknya penggemar, menerima pujian, applause merupakan bagian tak terpisahkan bahkan mungkin dianggap salah satu tolok ukur keberhasilan dari ungkapan dan pertunjukkan seni. Sedangkan keberhasilan psikologi adalah sejauhmana tolok ukur kesehatan mental terpenuhi dengan tidak pertu mengaitkannya dengan tujuan penghiburan.
e. Seni lebih tertarik untuk menggambarkan keunikan karakter pribadi dalam situasi tertentu, sedangkan psikologi berusaha untuk mendapatkan asas-asas tingkahlaku dan pengalaman manusia dalam berbagai situasi pada umumnya.
f. Rekayasa artistik dan sentuhan estetis dilakukan dalam kesenian untuk menggambarkan manusia dan situasinya, sedangkan psikologi menggambarkannya secara objektif seperti apa adanya. Dengan demikian tak mengherankan bila manusia dan dunianya digambarkan sangat nyata dan lebih hidup dalam karya seni dibanding dalam laporan kasus-kasus psikologi.
SENI DALAM TINJAUAN PSIKOLOGI
Psikologi -khususnya aliran psikologi Humanistika- mempelajari manusia dan kualitas-kualitas khas manusiawi yang tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk lain, terutama hewan. Kualitas-kualitas manusiawi itu antara lain: rasa tanggung jawab, kebebasan pribadi, nilai dan penilaian, cinta kasih, makna hidup, hidup bermakna, religisitas, rasa etis dan estetis, kreativitas, pemahaman diri, pengembangan pribadi, aktualisasi diri, empati dan simpati, kehampaan hidup, dialogi, transendensi, humor, permainan, kemandirian, rasa bersalah, distansi-diri, ideologi, keimanan dan sebagainya. Dengan demikian seni, kreasi seni dan pertunjukkan seni sebagai ungkapan nilai-nilai dan rasa estetis sudah tentu menjadi bahan telaah psikologi, karena hal itu merupakan salah satu kualitas insani.[2]
Selain menjadi bahan telaah psikologi, seni pun berfungsi sebagai salah satu sumber yang sangat penting bagi pengembangan hidup bermakna dan kesehatan jiwa. Dalam psikologi aliran Logo Terapi kehidupan yang bermakna, (the meaningful life) dapat diraih dengan jalan memahami, menghayati dan merealisasikan trinilai yaitu: Nilai-nilai kreatif (creative values), niai-nilai penghayatan (experiential values) dan nilai-nilai bersikap (attitudinal values).[3] Artinya, hidup bermakna dapat dicapai melalui karya dan kegiatan berkarya yang bermanfaat, pengalaman dan penghayatan atas kebenaran (ideologi), keyakinan (agama), keindahan (seni), dan cinta kasih, serta sikap tepat atas peristiwa tragis yang tak dapat dielakkan lagi. Dalam hal ini menciptakan karya seni adalah ungkapan nilai-nilai kreatif, sedangkan mengalami dan menghayati karya-karya seni tergolong nilai-nilai penghayatan yang semuanya merupakan sumber makna hidup dan kesehatan mental.
Kreasi seni sebagai ekspresi perasaan (keindahan) dimanfaatkan dalam psikologi sebagai terapi yang disebut Terapi Serif (Art therapy). Kegiatan-kegiatan seperti menjadi, bernyanyi, melukis, pantomim, membawa novel, deklamasi, dan menciptakan karya seni ternyata sangat membantu melancarkan komunikasi antara pribadi dan mengatasi hambatan emosional. Sedangkan bermain peran dalam drama singkat telah lama digunakan sebagai terapi yang dikenal dengan Psikodrama.[4] Demikian pula kegiatan menggambar dan mengarang cerita atas rangsangan gambar-gambar tertentu digunakan sebagai test diagnostik kepribadian, karena biasanya hal itu dapat memproyeksikan karakter seseorang.[5]
MANFAAT PSIKOLOGI BAGI SENIMAN
Sebenarnya cukup banyak manfaat psikologi bagi para seniman, baik sebagai pencipta karya seni maupun sebagai aktor/ aktris dan sutradara serta pengelola pertunjukkan karya seni. Di bawah ini diungkapkan rnanfaat psikologi dalam beberapa kegiatan yang berkaitan dengan kesenian yakni:
a. Kreasi seni
b. Analisis Karakter
c. Pengembangan pribadi seniman
d. Memahami perilaku penonton
a. Kreasi Seni
Gagasan yang muncul dalam pikiran, ataupun pengalaman dan penghayatan batiniah tertentu yang menyentuh alam perasaan dah imajinasi diolah secara kreatif dan estetis dengan senantiasa memperhatikan unsur-unsur artistik, sehingga terciptalah suatu karya seni. Setelah melalui berbagai perbaikan, penyempurnaan dan uji-coba barulah karya seni itu ditampilkan ke masyarakat.
Sekalipun proses penciptaan karya seni dapat hampir sepenuhnya tergantung pada diri pribadi si pencipta -terutama pada tahap munculnya gagasan dan pengalaman batin- tetapi pada tahap-tahap selanjutnya psikologi dapat dimanfaatkan sebagai unsur pendukung. Gagasan yang muncul dan pengalaman batin yang dihayati biasanya masih merupakan tema yang utuh, abstrak dan sangat umum serta belum memiliki wujud untuk merealisasikannya secara tepat diperlukan berbagai pertimbangan psikologi. Misalnya menentukan tokoh cerita dengan karakter tertentu dalam novel dan teater, gerakan tubuh sebagai lambang-lambang pada tarian, ekspresi dan impresi suatu lukisan dan patung, keserasian nada-nada, instrumen musik dan liriknya, dan pemilihan kata-kata yang tepat dalam menyusun sajak diharapkan akan lebih mudah dilakukan dengan bantuan psikologi.
b. Analisis karakter
Analisis karakter sebagai usaha untuk memahami dan mendalami kepribadian (a.l. sikap, sifat, pemikiran, perasaan, hasrat dan perilaku) tokoh-tokoh cerita selalu dilakukan oleh sutradara dan para aktor/ aktris yang akan memerankan tokoh-tokoh itu dalam film dan teater. Di bawah ini dikemukakan kutipan sebuah analisis karakter sebagai berikut:
Si Pengecut
Kepengecutan adalah mengerdilnya jiwa karena takut. Di laut waktu berlayar ia mengira batu karang sebagai bajak laut Kecemasannya timbul bila laut sedikit pasang, padahal penumpang lain tak apa-apa. Sambil terus-menerus memandang langit ia bertanya-tanya kepada jurumudi bagaimana keadaan cuaca dan kapan mereka tiba di tempat tujuan. Kepada orang yang berdiri di sebelahnya ia berkata bahwa semalam ia bermimpi jelek. Lalu membuka jubah dan menitipkannya pada pembantu, maksudnya supaya ia mudah berenang. Bahkan akhimya ia memohon untuk segera diturunkan saja di pantai yang samar-samar masih kelihatan. Dalam tugas kemiliteran saat perang sedang berkecamuk ia memanggil anak buahnya untuk berjaga jaga di sekelilingnya, karena katanya ia sulit membedakan mana musuh dan mana kawan. Mendengar deru suara pertempuran dan melihat korban mulai berjatuhan, ia berkata pada kawan-kawannya bahwa ia ketinggalan pedang di tenda, lalu cepat-cepat pu!ang ke garis belakang. Tiba di kemah ia menyuruh pembantunya keluar untuk berjaga-jaga sekitar kemah, dan ia sendiri cepat-cepat menyembunyikan pedangnya di bawah bantal, lalu pura-pura sibuk mencari-cari senjata. Kebetulan ada tentara dibawa pulang karena teduka, lalu ia ikut memapahnya dan mengatakan kepada si korban supaya jangan putus asa karena ia akan mengurusnya baik-baik. Kemudian ia membersihkan darah dari luka itu, lalu duduk di sebelahnya untuk mengusir lalat yang beterbangan di sekitarnya serta melakukan berbagai kesibukan kecuali berperang. Mendengar bunyi terompet pemberi semangat, ia bersungut-sungut: "Sialan, mana bisa orang malang ini tenang beristirahat bila terompet tak henti-hentinya dibunyikan". Dengan baju penuh darah dari tentara yang luka itu ia keluar dari tendanya menyambut tentara-tentara yang baru kembali dari pertempuran dan mengatakan kepada mereka bahwa ia telah menyelamatkan seorang teman dengan mempertaruhkan nyawa sendiri. Lalu ia membawa mereka ke dalam tendanya dan mengatakan berulang-ulang bahwa ia sendiri yang menyelamatkan si korban dan membawa untuk menampung di tendanya.[6]
Gambaran karakter di atas adalah karya Theophrastus, seorang penulis Yunani dan pakar dalam menganalisis karakter manusia. Ia hidup sekitar 2.200 tahun yang lalu. Sekalipun tulisannya telah berumur sangat tua, tetapi gambaran berbagai karakter yang telah disusunnya sangat nyata dan hidup serta tetap aktual. Artinya setiap kurun selalu ada manusia-manusia dengan berbagai perilaku yang menggambarkan karakter tertentu, termasuk manusia-manusia penakut.
Analisis karakter seperti digambarkan Theophrastus biasanya tidak jauh berbeda dengan analisis karakter yang dilakukan para aktor dan aktris masa kini, yakni berusaha menemukan sifat dasar (main trait) tokoh cerita, kemudian menjabarkan bagaimana sifat dasar itu terungkap dalam kata-kata, gerak-gerik, dan perilaku dalam situasi tertentu. Atau sebaliknya dari dialog dan petunjuk perilaku yang ditulis dalam naskah dapat juga ditentukan bagaimana kira-kira sifat dasar dari karakter tokoh itu. Dalam prakteknya kedua cara itu dilakukan bersamaan.
Walaupun analisis karakter seperti digambarkan Theophrastus sangat mudah dibayangkan -karena sifat dasar itu dijabarkan dalam berbagai perilaku nyata-, tetapi usaha seperti ini mengandung suatu kelemahan, karena manusia seakan-akan ditampilkan secara karikaturis dan sempit, yakni sikap, sifat, perilaku, perasaan, pemikiran, hasrat, dan angan-angan manusia hanya berpola pada satu dasar tertentu. Padahal manusia memiliki banyak unsur psikofisik dengan proses sangat majemuk dan dinamis serta selalu ada kemungkinan untuk berubah. Ia pun mengandung berbagai kontroversi dalam dirinya dan berpeluang untuk mendalami konflik dengan diri sendiri dan orang lain. Manusia pun terbuka terhadap lingkungan: Ia dapat terpengaruh oleh lingkungan dan sebaliknya dapat mempengaruhi lingkungan. Tak mengherankan bila setiap Pribadi selain memiliki kesamaan dengan seluruh umat manusia, juga ada kesamaan dan perbedaan dalam tipe kepribadiannya, bahkan keunikan dirinya membedakan seseorang dengan orang lain seperti ujar Kluckhohn & Murry:[7]
Every man is in certain respects
a. Like all other men
b. Like some other men
c. Like no other man
Keunikan manusia tampak antara lain dalam berbagai cara mengungkapkan hasrat (perasaan, pemikiran, angan-angan, dsb). Mungkin ia mengekspresikannya secara langsung dan sesuai dengan aria yang dihasrati, mungkin pula tak langsung dan menunda, atau bahkan menyangkal apa yang benar-benar dihasratinya. Semuanya menunjukkan adanya Kebebasan berkehendak (the freedom of will) sebagai salah satu karakteristik manusia.[8]
Memahami psikologi -khususnya psikologi Kepribadian sangat penting dalam usaha melakukan analisis karakter tokoh yang akan diperankan, sehingga pemahaman dan penghayatan atas tokoh cerita akan lebih mendalam, kreatif dan ilmiah. Tanpa pengetahuan psikologi dikhawatirkan analisis karakter meniadi dangkal, sempit, stereotipik dan menggelikan.
c. Pemahaman dan Pengembangan Pribadi Seniman
Pengembangan pribadi (bakat, kemampuan, ketrampilan, penghayatan, imajinasi, kreativitas, dsb) sudah tentu dikehendaki oleh semua orang yang ingin berprestasi dan berprestise.
Dalam psikologi ada beberapa langkah untuk mengembangkan diri:
Langkah pertama, menjajagi motivasi untuk mengembangkan diri. Ini dilakukan dengan jalan bertanya pada diri sendiri apakah kita sudah puas dengan keadaan seperti sekarang atau masih ada keinginan untuk lebih mengembangkan diri. Bila ternyata kita sudah merasa puns dengan keadaan seperti sekarang, maka tak usahlah berpayah-payah mengembangkan diri. Tetapi bila benar-benar kita belum puas dengan kondisi kita saat ini, maka Pengembangan diri perlu dilakukan. Langkah kedua, mengenal dan memahami berbagai keunggulan dan kelemahan diri pribadi, baik yang masih merupakan bakat (potensi) maupun yang sudah terealisasi menjadi sifat, kemampuan dan ketrampilan nyata (aktualisasi). Langkah ketiga, memilih hal-hal apa yang paling penting dan bermakna untuk ditingkatkan dan menentukan pula hal-hal yang perlu dihilangkan atau dikurangi. Usaha ini perlu mempertimbangkan unsure-unsur yang menunjang dan menghambat pengembangan diri, baik yang bersumber dari diri sendiri maupun lingkungan. Langkah keempat, adalah melakukan upaya nyata untuk meningkatkan apa yang baik dan mengurangi apa yang kurang baik. Langkah ini adalah langkah yang paling berat, karena perlu motivasi kuat, keuletan kerja, waktu yang banyak, dan dukungan lingkungan. Selanjutnya, langkah kelima adalah evaluasi diri atas keberhasilan dan kegagalan upaya peningkatan diri serta menentukan apa yang akan dilakukan sebagai tindak lanjut.
Inti dari proses/langkah-langkah Pengembangan pribadi adalah kesadaran atas diri sendiri dan kemauan untuk memperbaiki kondisi diri. Sudah tentu pengetahuan psikologi diharapkan dapat membantu mereka yang ingi memahami diri dan berusaha mengembangkannya. Hal ini berlaku bagi para insan seni yang selalu ingin meningkatkan bakat, kemampuan, keterampilan dan keahliannya guna meraih prestasi dan prestise!
d. Memahami perilaku penonton
Penonton atau audience adalah seke lompok orang yang hadir pada waktu dan tempat yang sama untuk menyaksikan suatu obyek/kegiatan tertentu sebagai pusat perhatian. Contoh: sekelompok orang menonton pertunjukkan lawak di sebuah gedung pertunjukkan.
Dalam menyaksikan pertunjukkan lawak tersebut kita melihat bermacam-macam perilaku penonton. Ada yang sekadar tersenyum-senyum saja, ada yang tertawa-tawa kecil, ada yang tertawa terbahak-bahak dengan mulut terbuka lebar, ada yang terpingkal-pingkal sambil memegang kulit perut, bahkan ada yang terbahak-bahak sambil bergegas ke kamar kecil. Kejadian ini menunjukkan penonton sedang bersama-sama tertawa (laughing with) menertawakan para pelawak menjalankan profesinya (laughing at), sekalipun masing-masing penonton secara individual menunjukkan perbedaan intensitas tawa mereka.
Ada beberapa karakteristik dari kelompok audience ini, antara lain:
Ikatan kelompok longgar, keberadaan kelompok berlangsung sejalan dengan lamanya obyek/kegiatan yang disaksikan, terdapat berbagai pola respons sesuai dengan intensitas perasaan tertarik kelompok dan jenis obyek/kegiatan menonton melibatkan keseluruhan unsur raga dan jiwa secara utuh.
Hal penting yang perlu dipahami mengenai perilaku penonton, -dalam hal ini penonton karya seni-, adalah: Apa yang menyebabkan penonton menyaksikan kegiatan (pameran, pertunjukkan) seni? Dengan lain perkataan: Apa motivasi mereka menonton?
Psikologi menunjukkan bahwa kebutuhan atas sesuatu terjadi karena seseorang merasa bahwa hal itu penting dan bermakna baginya. Karena itu ia membutuhkannya, antara lain untuk mengisi kekurangan dirinya, memenuhi rasa ingin tahu dan minatnya. Selain bersumber dari diri sendiri, kebutuhan pun tirnbul karena pengaruh dari luar, seperti informasi yang diterima, pendidikan dan pergaulan, serta kebutuhan adalah kondisi yang memudahkan terpenuhinya kebutuhan tersebut, misalnya saja ketersediaan yang diperlukan itu, kondisi keuangan, dan tempat yang mudah dijangkau. Ini berlaku juga bagi pertunjukkan karya-karya seni, sehingga sekurang-kurangnya ada tiga hal yang dapat menimbulkan motivasi untuk menyaksikan pertunjukkan seni. Keduanya berkaitan dan saling mendukung satu dengan lainnya yakni:
1. Kebutuhan dan minat alas karya-karya seni.
2. Informasi yang cukup mengenai kegiatan seni.
3. Kondisi yang memungkinkan untuk menyaksikan pertunjukkan seni.
Ketiga unsur motivasi ini secara implisit menunjukkan bahwa seni selain memiliki fungsi menghasilkan karya-seni (creating), menghibur (entertaining), dan memenuhi minat masyarakat, juga memiliki fungsi mendidik agar masyarakat memiliki apresiasi atas seni dan karya-karya seni. Ini dilakukan antara lain dengan jalan memberikan informasi yang berkesinambungan mengenai seni dan karya-karya seni yang bermutu serta memberi kesempatan menyaksikannya. Ceramah, diskuksi, peragaan, dan dialog-dialog lainnya dengan para pelajar di sekolah merupakan contoh usaha nyata yang dapat dilakukan. Dengan demikian penonton sebenarnya dapat dididik untuk menghargai dan menyenangi karya-karya seni bermutu.
KESIMPULAN
Ternyata fenomena "Manusia dan Dunianya" adalah titik temu psikologi dan seni. Keduanya melibatkan diri dalam fenomena ini dan sering menjadikannya sebagaI tema sentral kaitan psikologi dan kreasi seni. Keduanya (seharusnya) sating membutuhkan dalam mempertajam pemahaman tentang manusia.
Mengingat begitu erat kaitan antara seni dengan psikologi, maka tak mengherankan bila Gordon W. Allport, seorang pakar psikologi kepribadian, dalam buku Personality: A Problem for Science of For Art? menyampaikan sebuah saran sebagai berikut: if you are a student of psychology, read many, many novels and dramas of character, and read biography. If you are not a student psychology, read these too, but read psychology as well. [9]
Saran Allport ini secara tidak langsung menunjukkan pula titIk temu antara psikologi dengan seni. Sudah tentu saran baik ini pun dapat dijabarkan lebih lanjut lagi bagi para psikolog dan para insan seni sebagai berikut: Bila Anda seorang psikolog, sering-seringlah membaca novel, melihat pameran seni rupa dan foto, menonton film dan teater, menikmati musik/seni-suara dan tari, menyimak makna sajak, menyaksikan pagelaran seni tradisional dan kontemporer. Dan jangan lupa berbincang-bincang hangat dengan para seniman. Sebaliknya, bila Anda adalah insan-insan seni, baik sebagai actor/aktris, sutradara, pencipta karya seni, guru-seni, penulis, maupun pengelola pertunjukan seni, pelajarilah secara intensif psikologi untuk memahami. motivasi, persepsi, dan emosi, imajinasi dan kreativitas; komunikasi efektif; pengenalan dan pengembangan diri; temperamen, karakter dan kepribadian, pendidikan dan cara-cara mengajar efektif, perilaku rnenyimpang dan ketrampilan konseling; penghayatan etis dan estetis, serta hakikat manusia. Dan berteman baiklah dengan psikolog!
[1] Terjemahan bebas dari novel Sunda PIPISAHAN karya R.A.F (Pustaka Jaya, 1977).
[2] Lihat Existential Psychotherapy karya Irving Yalom, New York: Basic Book, Inc. Publishers, 1980, hal. 18.
[3] Tentang nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap sebagai sumber makna hidup, dimuat dalam hampir semua kepustakaan mengenai Logoterapi.
[4] Psikodrama sebagai psikoterapi dikembangkan oleh Moreno semenjak tahun tigah puluhan.
[5] Misalnya Rorschach Test, Thematic Apperception Test (TAT), dan tes grafis (Draw A Person, House-Tree-Person).
[6] Diterjemahkan dari `The Coward" dalam Psychotherapy and Social Encounter karya G. W. Allport, Boston: Beacon Press, 1960.
[7] Ucapan terkenal dari Clyde Cluckhohn dan Henry Murray ini terdapat pada Personality Formation: The Determinants" dalam buku suntingan mereka Personality in Nature, Society and Culture, New York: Alfred A. Knopf: Yayasan lnsan Kamil.
[8] Seperti halnya nilai-nilai sumber makna hidup, The Freedom of Will ini terdapat hampir semua buku mengenai Logoterapi.
[9] G.W Allport, Personality and Social Encounter, Boston: Beacon Press, 1960, hat. 15.
2 komentar:
tulisannya menginspirasi. trimakasih ^_^
nice article... sangat bermanfaat...
Makasih yaah...
Posting Komentar